4 januari
#Saat ultah Nine
Ini adalah novelku yang pertama... Novel karya kami.. Ditujukan untuk sahabat kami yang tengah genap berusia 20 tahun, Nine.....
Setelah mengalami penggodogan yang cukup panjang dalam segi konsep, ide cerita, keredaksionalan dan finishing, akhirnya novel karya kami bertiga diterbitkan pada pukul 18.57 WIB pada tanggal 3 Januari 2013 di rumah Bin... Selanjutnya pada 4 januari 20.18 WIB bertempat di Garden Kafe UNY secara resmi kami menyerahkan novel tersebut pada Nine. Saat novel itu dibuka, nampak pada halaman pertama ... Untaian kalimat yang sambung menyambung dalam bait-bait paragraf serta foto-fotonya tempo dulu yang masih unyu menyapanya ..... Sontak Nine memeluk Bin dan menangis....Aku pun bilang, “Bin, hati-hati bajumu, entar basah kena ilernya Nine “
Novel kami berjudul “Bersama” yang diterbitkan oleh PT Tak Tau Adat. Judul “Bersama” di sini memiliki filosofi. Lewat novel ini kami mengisahkan, bagaimana awal kebersamaan kami yang dimulai waktu SMA. Lalu mungkin seiring dengan berjalannya waktu, terkadang kami bersama dan juga berpisah. Kami sama-sama mencoba untuk bersama dengan yang lainnya dulu. Waktu terus bergulir...... Kami sudah menyandang predikat mahasiswa. Waktu yang menjawab, bahwa pada akhirnya kini kami kembali bersama. Kami mewarnai kebersamaan kami dengan backpakeran, yang mana di situ kami sama-sama pekok, sok tau, ngeyel, keras kepala, TAK TAU ADAT, dan lebih seringnya kami kembali ke peradaban normal dengan perekonomian PORAK-PORANDA.
Novel ini milik kami bertiga, Ipus, Bin dan Nine, yang dengan sedikit memaksa kami singkat menjadi BIN (Bin, Ipus, Nine). Novel ini semacam Tetralogi, di mana ada kelanjutan cerita untuk edisi ke-n selanjutnya. Novel pertama adalah edisi “Awal Bersua hingga Negeri di Atas Awan”. Lalu, edisi pada novel kedua adalah “Karimunjawa dan Tempat Eksotis Lainnya”. Segera menyusul edisi “Bersama” yang lainnya....
Kami memang tak bisa memberikan Nine kado dalam hitungan rupiah. Kami tak bisa memberikanya kado mahal yang spesial. Kami pun tak bisa memberikan kado dengan ukuran yang melebihi ukuran badannya. Tapi kami bisa memberikan karya kecil kita bertiga, yang akan dikenang sepanjang masa untuk anak cucu kita :D. Selamat ulang tahun Sahabat Kami, Ninda Arus Rizky Ratnasari....
#Pulang ke Rumah
Aku kembali pulang larut malam ini. Seperti biasa, Ibuku masih terjaga menunggu kepulanganku. Baru setelah aku sampai rumah dan mengetahui keadaanku baik-baik saja, Ibu baru beranjak istirahat. Ibuku memang rada parnoan... Belakangan aku tahu, ada dua alasan besar yang mendasari ijin untukku kos. Pertama, Ibu sudah capek pikiran untuk selalu menunggui kepulanganku di malam hari. Kedua, adalah karena aku sekamar berdua dengan Nadhia.........
Ibuku, sama dengan ibu pada umunya. Ibuku adalah perempuan desa, yang sangat cantik di mataku, sayangnya gen ibu hanya diwariskan untuk Mas Dedi, bukan kepadaku juga Mas Hadi. Ibuku, beberapa sikapnya diwariskan padaku, seperti sikap rempong dan cara ngomong yang tidak jelas. Terimakasih untuk Ibu, dengan mengenal Ibuku, aku bisa tumbuh bermetamorfosis...
Yang menjadi pembeda ibuku dnegan ibu pada umunya adalah. Keherananku padanya. Entah mengapa, ketika aku memikirkan sesuatu hal, pasti Ibu juga sedang memikirkan hal itu. Saat aku capek untuk menjadi mahasiswa komuter contohnya, entah mengapa ibu tiba-tiba menanyakan padaku, apakah aku bermaksud untuk menjadi anak kos. Saat aku galau masalah cowok kemarin, secara tiba-tiba ibuku bertanya siapa yang sedang dekat denganku.... Kenapa juga saat aku berkata sangat lirih yang mungkin semut pun tak dapat mendengarnya, Ibuku dengan sangat jelas mendengarkan kataku itu..
Ibuku, ibu adalah ibu yang suka galau dan sering berkata plin plan. Sebelumnya khawatir bila aku dekat dengan cowok..tapi menanyakan dan berharap aku dekat dengan seseorang. Kadang-kadang pula ibu panik sendiri kalau aku dekat dengan seorang cowok.. Dan tiba-tiba pula ibu bertanya bagaimana perkembangan kedekatanku dengan cowok? Kapan diajak ke rumah. Oh Ibu, Ibu adalah Ibu tergalau yang tersayang bagiku :D.
Ibuku, ibu adalah ibu yang meski sudah tau kesalahan anaknya, terkadang menutupinya dari khalayak. Ibu tetap membelaku, meski rasa kecewa tersimpan rapat dalam hatinya.
Ibuku, ibu adalah ibu tersayang. Memberikan waktu panjang untuk putrinya istirahat. Ibu tak pernah marah ketika setiap hari aku bangun di atas jam 7 :D. Ibu teladan untuk semua ibu, tapi tak akan kuterapkan untuk anak-anakku kelak. Aku tak ingin orang lain hidup seenak hidupku, apalagi anakku nanti :p.
Ibu adalah ibu yang mengurungku selama aku kecil dan remaja, sehingga kini aku sering mbolang nggak jelas tanpa restu orang tua.... Ibu yang tidak mengizinkan aku mbolang, pun pada akhirnya mengisi kantongku untuk mbolang...
Ibuku, ibu adalah ibu yang di usiaku sekarang, sudah “cerewet” mengatakan bahwa besok aku akan diwarisi rumah yang kini kami tinggali, uang sekian puluh juta, emas, tanah.. Oh................ aku rasa telingaku saja masih terlalu dini mendengarnya. Dan aku rasa aku masih berumur panjang...
Ibuku, ibu yang sekali lagi aku bilang ibuku adalah ibu super galau. Ibu tidak mengizinkan aku mendapat suami jauh-jauh dari Jogja, ibu tidak mengizinkanku kuliah di luar Jogja, tapi menyuruhku untuk kerja di Kalimantan... Ohh Ibu, Ibu adalah Ibu yang membuat anaknya pusing sekaligus sayang...
Ibuku, ibu yang suka merayu putri bungsunya, manakala putrinya yang dibilang ngeyel ini sedang ngambek dan jarang pulang ke rumah (menjamur di kos). Biasanya ibu merayu dengan, mencucikan baju putrinya, membelikan putrinya coklat, baju, dan lain sebagainya....
Ibuku, ibu yang masih tetap galau. Ibu bilang, kalau sudah kos, jangan sering-sering pulang ke rumah. Tapi ya itu tadi, kalau udah ngga pulang-pulang, ibu akan merayu dengan hal-hal di atas. Sekali pulang ke rumah, Ibu pasti melarang untuk balik ke kos cepat-cepat. Sekali pulang juga, Ibu akan kembali “cerewet” untuk menyuruhku makan ini itu. Ibu juga “cerewet” saat membekaliku apa-apa saja bahan makanan yang aku bawa ke kos.
*Semoga menginspirasi untuk semua Ibu dan calon Ibu di dunia.*
Jumat, 04 Januari 2013
Selasa, 01 Januari 2013
Hidup Tak bisa menunggu by : Sunsilk
“Kalau diminta menulis semua kehebatan Mama, kurasa aku perlu membabat semua pohon di belantara Kalimantan untuk membuat kertas.”
“Hidup seperti ketapel,. Ada masanya Tuhan menarik kita ke belakang, tapi sesudahnya kita dapat melesat dengan cepat mencapai sasaran.”
Semua itu karena hidup tak dapat menunggu. Karena kita harus lari sekencang-kencangnya, karena kita harus mengejar hidup kita, dan bahwa tidaklah hidup kita menunggu kita.
Senin, 30 Juli 2012
Sebingkai cerita dalam 3 bulan pendewasaan
Sudah
lama ya? Kurang lebih 3 bulan sudah aku tak bersama sahabatku ini, tempat aku
bercuah cerita, my lepi, sahabatku yang pinter banget ini. Selama masa tidurmu
ini, banyak sudah cerita terlewatkan tanpa aku berbagi dulu padamu. Tiga
Bulan... selalu ada yang bermakna dengan angka 3. Mungkin karena namaku tri
kali ya? Hahahhaha, sungguh, banyak sekali kisah selama 3 bulan itu. Aku sampai
bingung mau menceritakan pada si lepi ini dari mana.
Sahabatku,
kamu tertidur ketika aku dan kawan2ku sibuk menulis proposal awal sebagai pintu
gerbang praktikum kami, dan kini kau terbangun kembali setelah cukup menguras
keringatku dengan kerja pontang-panting, saat kami menyusun laporan akhir
menutup kenangan ‘rempong’ praktikum 1. Hahahhaa, lucu ya :D
Awalnya
aku merasa berat. Terlebih, aku tengah dikejar deadline tulisan buat telisik
bul (yang sempat bermasalah), proposal dan tetek bengeknya tentang praktikum
(jadi ngga begitu fokus mikirin praktikum), tugas-tugas lainnya, banyak banget.
Terpaksa mempending liburan ke Karimunjawa karena harus menabung untuk si lepi.
Ada kata menarik yang aku petik, setelah sharing dengan mas zudin. Darinya, aku jadi tau bahwa
tuhan ingin aku menjadi orang yang ‘berbeda’. Mulailah aku jalani semuanya
dengan penuh pembelajaran kawan. Aku percaya, aku akan menjadi lebih dewasa.
Semangat menjalani hari-hari berikutnya yang sepertinya (dan memang) akan lebih
berat :D.
Ketika
aku tau apa yang membuatmu tertidur, aku bertekad untuk mengumpulkan uang dengan
keringatku sendiri untuk mendapatkan uang. Aku tau, sahabatku ini perlu banyak
stimulus dolar agar mau bangun kembali. Ibarat putri salju, butuh banyak ciuman
dari pangeran tampan. Hahahahaha. Iya aku bertekad tak akan meminta uang mamah dan
bapak. Tak tanggung-tanggung, aku malah menyembunyikan semua ini dari
keluargaku. Aku merasa lebih mudah menjalani semua ini hanya dengan sepengetahuan
sahabat-sahabatku kampus dan SMA. Nantinya, di detik terakhir, mereka juga tau
tentang semua ini, dan aku merasa dengan taunya mereka tentang lepiku, semua
menjadi sedikit lebih berat.
Iya aku
kerja serabutan. Panen uang kepanitiaan yang senilai 1 dolar itu, ngelamar
kerja di warnet yang mana sempat mengorbankan acara paling spesial kedua (menurutku)
di SP2MP, yang akhinya aku ngga diterima juga, kerja jadi pengelola perpus,
nabungin jatah bulanan ortu perbulannya, dan jualan rok. Syukur banget ini, aku
dapet link bagus buat jualan rok, yaa ... J.
Ini tak lepas dari adanya masalah kepenulisan telisik bul. hahahah :D. Kerja
keras itu, membuahkan uang yang alhamdulillah lebih dari cukup untuk memasukkan
sahabatku ini ke rumah sakit, bahkan sisa lumayan lah J.
malah bisa buat nolong temen n tetangga J
hahahah, (nindul n meses, peace ya...wakakakkaka)
Selain prihatin
dengan masalah si lepi, aku juga prihatin dengan perkuliahan. Kerjaanku numpang
leptop di sana sini. Aku terharu dengan sahabat-sahabatku... Mereka ada di saat
aku senang dan menolongku saat duka saperti ini J.
Ilma, nadhia, sekar, ninda, nisa .... kalian membuatku terharu. Merekalah yang
secara langsung menolongku J. Sibbil, kikik, bin, kalian memberiku
dorongan. Makasih kawaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnn J
Selain numpang mereka, aku juga sering numpang lepi sama kakak-kakak iparku.
Maka tak heran bila di mana-mana ada folder kalo ngga ‘itok lagi susah’, ‘itok
bastem lagi susah’, ya ‘ita bastem lagi susah’. Hahhaha... Ngga hanya itu, aku
juga jadi penghuni setia perpus sampai larut malam. Untung di sana ada komputer
dan tutup malem, jadi aku bisa sampe malam ngetik, browsing, baca materi dalam
bentuk soft file di sana. UGM full of facilities J.
Ngomongin
masalah bastem ni ya, ada sebuah cerita yang terlewatkan selama 3 bulan lepiku
ini tidur, adalah adanya ‘sahabat’
baru yang lumayaaan dekeetlah, ya ngga perlu disebutin ya, udah tau lah ya anak
fakultas sebelah J. Setelah
tak pikir-pikir, dia datang ketika aku galau lepi. Lalu dia pun bisa dikatakan
pergi ketika lepiku hendak bangun. Ya setidaknya makasih ya,,, sudah ada selama
lepiku sekarat. Sayangnya, aku belum bisa menceritakan tentangmu pada lepiku
ini selama aku mengenalmu dengan baik selama 3 bulan itu (ambigu) xixixiix. Setidaknya
aku sudah sedikit dewasa masalah cinta hahahahah XD.
Tiga
bulan yang sangat membuatku dewasa dalam menghadapi kehidupan. Kedewasaan juga
dapat terjadi dengan adanya musibah lepi, dan berita duka tentunya. Berita duka
tentang kepergian mbah wiji. Aku tak siap jauh dari mbak sum. Tapi pada
akhirnya, aku menjadi mahasiswa penglaju kembali. Selamat saling jauh mbak sum,
doakan aku cepet sukses, biar nanti aku datang padamu, mencarimu, dan berbakti
padamu. Mbak sum, budeku yang aku anggap sebagai ibuku :D.
Kututup
note malam ini dengan menghela nafas. Senen malam, tanggal 30 Juli 2012. Malam
ini membuka kembali lembaran diari yang mungkin sempat usang di leptop.
Sekaligus, menutup perjuangan praktikmum yang gila itu :D. Akhirnya aku tutup
dengan mengucapkan, sayonara Praktikum Rempoooooong :D.
30 juli 2012
di kamarku yang masih berantakan (belum sempet bersihin gara-gara praktikum)
Rabu, 27 Juni 2012
Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2!
Ada yang
mengatakan bahwa, masa depan seseorang ditentukan oleh siapa temannya dan buku
apa yang ia baca. Buku dapat
mempengaruhi dan menentukan kehidupan seseorang. Bila buku yang dibaca adalah
buka yang memuat kisah-kisah inspiratif, sudah barang tentu orang-orang yang
membacanya merupakan orang-orang yang inspiratif, mampu menginspirasi
orang-orang di sekitar. Begitiu pula bila buku yang dibaca adalah buku
pencerahan, sudah barang tentu juga orang-orang yang membacanya dapat memaknai
hidup sesungguhnya dengan pencerahan-pencerahan yang ia dapatkan.
Ajahn Brahm
melalui buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya part 2 ini, kembali
mencerahkan pembaca, melalui 108 kisah inspiratif yang dibawakannya dalam
bahasa yang apik. Setiap kisah dalam bagian ini, dapat dimaknai dan dipetik
hikmahnya dalam kehidupan. Akan tetapi kembali lagi kepada pembaca dalam
memahami isi buku ini. Well, siap-siap bagi pembaca bahwa buku ini akan membuka
pikiran Anda semuanya.
Mungkin bila
kita sakit dan berobat ke dokter, kita akan mengatakan “Dok, ada yang tidak beres
dengan saya”. Itu sudah sering kita dengar, tapi coba, bila yang keluar dari
mulut pasien seperti ini, “Dok, ada yang beres dengan saya”. Apakah selamanya
penyakit itu harus dihindari? Siapa guru yang dapat mengajari kehidupan pada
kita secara langsung? Ketika kita tengah sakit, sesungguhnya ada penangan yang
mudah dan sederhana. Dengan menjadi bahagia kita akan sembuh. Berdamai dengan
penyakit akan menyadarkan kita pada kehidupan ini. Diceritakan bahwa ada seorang
yang bekerja di pertambangan, oleh karena suatu kecelakaan kerja yang
disebabkan oleh kelalaian pekerja lainnya, ia kehilanagn salah satu kakinya.
Hal yang menarik di sini adalah, dengan melepas, ia menerima semua ini. Bahkan
kalau Anda ketahui, orang ini malah berterima kasih pada orang yang sudah
membuatnya kehilangan kaki.
Adakalanya, kita
perlu untuk meraih keheningan, kedamaian serta kebahagiaan. Beberapa cara yang
dapat dilakukan antara lain dengan melepas gubrisan, melepas pikiran yang suka
mencari kesalahan, serta tidak banyak menyimpan pikiran yang negatif. Bisa juga
karena kita menerima suatu kejadian tertentu, maka kita akan terbebas. Seperti
membebaskan diri setelah kehilangan Harley, harta kita satu-satunya. Cara
ketiga adalah dengan memberi tak mengharapkan kembali. Karena, pengetahuan itu
hanayalah papan petunjuk, hanyalah arah, mereka bukanlah yang sejati.
Dikisahkan di
sini, ada seorang pemuda yang hendak menikah. Maka pergilah ia mencari pasangan
hidup. Setelah berhari-hari dan berminggu-minggu, bertemulah ia dengan seorang
gadis cantik, tapi pemuda itu tak bisa menikahinya. Gadis itu tidak bisa memasak.
Selanjutnya, pemuda itu bertemu dengan gadis cantik yang piawai dalam memasak,
tapi pemuda ini pun tidak bisa menikahinya. Gadis ini bodoh. Selanjutnya,
pemuda itu bertemu dengan gadis cantik, piawai dalam memasak bahkan memiliki
restoran sendiri, cerdas tentunya, memiliki gelar doktor, tapi dengan gadis ini
pun, pemuda itu juga tidak dapat menikahinya. Gadis ini mencari pria yang
sempurna. Tentunya ada hikmah yang dapat kita petik dari kisah ini bukan?
Dikisahkan pula, pada suatu ketika, seorang guru mengumumkan bahwa putrinya
akan menikah. Sayembara yang dilakukan adalah, dengan mencuri apa pun barang
milik penduduk. Bagi yang berhasil mengumulkan hasil curian paling banyak dalam
waktu yang sudah ditentukan, ia akan menjadi pemenang, dan mendapatkan putri
guru tersebut. Akan tetapi, sayembara ini juga bersyarat, saat mencuri, pastikan
tidak ada seorang pun yang melihat mereka. Tebak saja, siapa yang memenangkan
sayembara ini? Justru seorang yang tidak dapat mengumpulkan satu barang pun lah
yang memenangkan sayembara ini. Dia mengatakan bahwa ketika ia hendak mencuri,
ada yang memperhatikan dirinya, yaitu dia sendiri. Pentingkiranya bagi kita
untuk bersahabat dengan diri sendiri. Menjalin persahabatan dengan diri
sendiri, membuat kita tidak akan pernah bosan dan merasa kesepian, karena
kemanapun dan dalam situasi apa pun, kita selalu bersama dengan sahabat terbaik
kita, diri kita sendiri.
Di tengah
kehidupan ini, pasti kita pernah merasakan adanya orang sulit yang hidup
bersebelahan dengan kita. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk
menghadapi mereka seperti menerapkan prinsip bahwa kita tidak akan pernah bisa
lolos dengan orang sulit ini, dan lebih melihat pada kesalahan, bukan orangnya.
Dijelaskan pula dalam bab ini, bahwa menghindari pujian itu, sebenarnya
merupakan bukti nyata bahwa selama ini kita dikendalikan oleh budaya kita.
Dikisahkan pula tentang apa itu arti neraka sesungguhnya di kehidupan nyata.
Apakah salah satunya adalah ketika kita marah?
Good? Bad? Who
Knows? Bila pembaca dihadapkan dengan pernyataan seperti ini, apa kiranya yang
melintas dalam benak pembaca? Bagaimana akhirnya seorang Raja selamat hanya karena
kehilangan salah satu jarinya yang mana Sang Raja itu menyalahkan sang tabib, dengan
hanya mengartikan kata-kata tadi? Good? Bad? Who Knows? Bagaimana pula Anda
percaya, bahwa sepasang suami istri yang berkain rombeng, dapat mendirikan sebuah
universitas dengan harta yang mereka miliki? Tentu ada banyak pelajaran di sini
yang dapat kita petik bukan?
Ada satu cerita
menarik, tentang seorang anak yang sedang bertengkar dengan ibunya. Bagaimanakah
akhirnya, ketika si anak itu memutuskan untuk pergi dari rumah, dan si Ibu
menyiapkan semua kebutuhan si anak dalam tas? Bagaimana kah kisah akhir yang
dalam pelukan yang mengharukan tersebut?
Disebutkan,
bahwa dengan keheningan, akan lebih memudahkan kita dalam berkomunikasi. Ketika
kita hening, kita lebih mampu melihat, mendengar, merasakan, dan menyerap apa
yang terjadi.
Pernahkah Anda mengerjakan
sesuatu dengan terpaksa, sehingga dalam mengerjakannya sangat sembrono? Bila
Anda pernah melakukan, dan pastinya pernah melakukannya, menurut Ajahn Brahm,
Anda sebenarnya sedang membuang-buang waktu Anda. Pada kisah ini, pasti Anda
akan sangat terkejut, bila mengetahui hanya dengan kedamaian dan keheningan,
penyakit tumor pun akan sembuh. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa?
Kisah-kisah di
atas, hanya merupakan sekelumit kisah dari keseluruhan kisah dalam buku ini.
Ada pemaknaan yang lebih luas, ketika kita membaca buku ini secara keseluruhan.
Sekali lagi, pemaknaan dan pencerahan tergantung dari pribadi pembaca. Bila
menginginkan pencerahan dan pemaknaan mendalam terkait buku ini, pembaca dapat
meminjam buku berjudul Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2 karya Ajahn Brahm
ini di perpustakaan Koperasi Kopa UGM. Terimakasih.. VIVA KOPERASI KOPMA UGM!!!
BRAVO!!!
by : itok
Selasa, 05 Juni 2012
Saya Mahasiswa "Autis"
Okey guys, akhir-akhir ini aku jaraaaaaaaaaaaaaaaaang banget bisa maen saha sahabat-sahabatku. Jangankan ya curhat curcol atopun nge gosip, ketemu aja jaraaaang. Alih-alih,, semua ini karena sahabatku lagi sakiiiiiitttt
Minggu, 18 Maret 2012
RESUME OF "Mereka Bilang Aku Gila"
MEREKA BILANG AKU GILA
Membuang, mencampakan, membiarkan lepas
begitu saja menghadapi kehidupan luar yang liar merupakan tindakan paling salah
yang dilakukan oleh keluarga terdekat untuk seorang penyandang penyakit mental.
Bagi penyandang penyakit mental yang terganggu jiwanya dan terganggu segala
macamnya, yang mereka butuhkan pertamakali untuk mendukung kesembuhannya adalah
dorongan dari keluarga inti. Ketika dorongan penyemangat dari keluarga itu
tidak ada, alhasil, kisah tragis seperti Ken Steele, penyandang penyakit mental
yang terganggu jiwanya dengan nama skizofrenia inilah yang akan terjadi.
Ken Stele, dalam usianya yang ke 14,
mulai mendengarkan suara-suara halusinasi yang menyuruh untuk mengakhiri
hidupnya. Suara-suara itu terdengar seakan mengejeknya, membuatnya depresi,
berteriak-teriak tanpa celah, mengikuti ke mana Ken pergi. Pada akhirnya, suara
itu berhenti, setelah menemani perjalanan hidupannya yang luar biasa selama 32
tahun. Pada awal-awal usia suara itu, Ken sempat melakukan apa yang disuruh
oleh suara-suara tersebut dengan melarikan diri ke hutan, terjun ke jalan,
membakar tubuhnya dnegan bensin, tetapi semua usaha itu gagal. Pada awal-awal
usaha mengusir suara itu, Ken mendatangi sahabat satu-satunya, neneknya sendiri
untuk menceritakan tentang suara-suara itu. Dari sang nenek, Ken mengartikan
suara-suara itu adalah iblis seperti pada kitab injil yang mengganggunya,
mencoba menguasai kehidupannya. Namun hal itu pun tidak membuat Ken lantas
sembuh atau tenang, maka pergilah ia ke gereja menemui pastur, untuk melakukan
pengakuan dosa. Seusai ia melakukan pengakuan dosa, entah tiba-tiba ia dibawa
ke rumah sakit guna melakukan pemeriksaan medis, dan itu tak lain dan tak bukan
adalah tindakan snag pastur. Ketika pemeriksaan belum selesai, Ayah Ken yang
kurang begitu peduli terhadap penyakit putranya ini, membawanya pulang. Ketika
usaha itu dicegah oleh berbagai pihak, sang ayah tetap membawa Ken pulang dan
membiarkan nasihat itu berlalu begitu saja di telinganya.
Tak lama setelah kejadian itu, Ken mendatangi
sang ayah dan bertanya tentang penyakit macam apa yang diidapnya. Dari mana
asal suara-suara jahat itu? Serta mengapa tingkahnya kian begitu aneh. Karena
menerima tekanan terus-menerus dari Ken, sang ayah pun menuliskan nama penyakit
yang diidap Ken dengan huruf besar, SKIZOFRENIA.
Dari buku di perpustakaan, Ken
mengetahui definisi dari penyakit skizofrenia yang kini bercokol pada tubuhnya.
Dari sana dikatakan, bahwa Ski.zo.fre.nia : penyakit jiwa yang ditandai oleh
penolakan terhadap realitas, berkhayal (delusi), halusinasi, dan hancurnya
kepribadian. Ciri-ciri lain mencakup kegilaan dan merasa berkuasa, tetapi daya
pikir tidak berkurang. Dari sana pula, Ken mengetahui fakta yang mengecewakan
bahwa penyakit tersebut merupakan penyakit yang tidak bisa disembuhkan.
Sebenarnya, Ken termasuk anak jenius di sekolah. Dia suka membaca, dan
nantinya, di beberapa rumah sakit jiwa dia selalu meminta buku karena dengan
membaca jiwanya bisa sedikit lebih tenang, dan suara-suara yang memborbardirnya
tidak akan begitu mengganggu ketika ia membaca. Ayahnya sendiri menginginkan
Ken pandai dalam bermain football. Tapi kenyataannya, Ken sama sekali tidak
bisa memenuhi harapan sang ayah. Dalam bidang akademik pun, Ken terus mengalami
kemerosotan, hingga pada akhirnya, Ken sudah mendapati dirinya tidak
disekolahkan oleh orang tuanya. Ken tidak lulus SMA.
Menghadapi kenyataan bahwa kini Ken
sudah tidak lagi sekolah, merupakan transisi dari statusnya yang dulu pelajar
menjadi pengangguran. Untuk itu, dengan hanya diantar sampai stasiun oleh kedua
orang tuanya, Ken berpindah ke kota lain untuk mendapatkan pekerjaan. Dari
sinilah awal kisah Ken bersama suara-suara itu sesungguhnya dimulai.
Sesampainya di kota tujuan, Ken
mendapati dirinya dalam kebingungan. Hal semacam inilah yang dijadikan mangsa
oleh orang-orang seperti Ted. Tak lama setelah Ken sampai di stasiun, dia
berkenalan dengan Ted, dan menginap di kamar Ted atas tawaran dari Ted. Dari
perkenalan inilah, Ken dibawa kepada dunia pelacuran waaria yang kelam.
Melayani pria satu dan yang lainnya pada malam-malam selanjutnya. Masih juga
harus memenuhi kebutuhan seks Ted. Semakin
menangnya suara-suara itu dalam kehidupan Ken. Mereka semakin memilki bahan
untuk menyerang Ken. Ini membuat Ken semakin depresi.
Pada suatu kesempatan, Ken melarikan
diri dari hidup Ted. Tentu saja Ted tidak akan tinggal diam. Pada tahun-tahun
setelahnya, Ted masih mencari-cari Ken yang akhirnya ditemuinya di Rumah sakit
jiwa, membawa kembali Ken pada dunia pelacuran, hingga pada akhirnya Ken kabur
untuk yang kedua kalinya dari kehidupan Ted. Pada kaburnya Ken yang pertama
dari kehidupan Ted, Ken selanjutnya berpindah dari jalan satu ke jalan lain.
Menjadi penyandang tunawisma bersama dengan suara-suara yang dimilikinya.
Memenuhi keinginan-keinginan suara-suara tersebut. Ken mencoba mengakhiri
hidupnya, lalu ketika ada orang yang memergokinya, dibawalah ia ke runmah sakit
negara dengan status ‘paksaan’.
Di rumah sakit jiwa, Ken diminumkan
obat ini itu. Di sidang dalam pengadilan dalam beberapa periode. Memasuki kelas
isolasi, mendapatkan hak jalan-jalan, memasuki rumah transisi, mendapatkan
pekerjaan, keluar dari rumah sakit entah itu karena sudah dinyatakan layak
keluar maupun kabur, itulah serangkaian kisah yang mewarnai kehidupan Ken
selama 32 tahun. Berpindah sari rumah sakit jiwa satu ke rumah sakit jiwa
lainnya. Menjajal rumah sakit jiwa a sampai z. Melalui tahapan pengobatan di
rumah sakit sampai ia hafal betul apa saja tahapannya, serta kiat-kiat apa saja
bila ia ingin mendapatkan hak jalan-jalan. Dinyatakan layak, keluar rumah
sakit. Di kehidupan luar, memenuhi keinginan suara-suaranya, masuk lagi rumah
sakit. Keluar masuk rumah sakit seperti rumahnya sendiri, dengan status
‘paksaan’ dan ‘sukarela’. Itulah rangkaian kisahnya yang membuat buku ini
nampak seperti hamberger, dan aku sampai laper membacanya.
Pada suatu ketika, ia menelpon orang
tuanya. Tanggapan datar muncul dari mulut ke dua orangtuanya setelah sekian
lama berpisah. Ternyata, nenek Ken sudah meninggal. Ken juga sudah memiliki seorang adik. Pada suatu
ketika juga, kedua orangtua Ken hendak menjemputnya, karena sang adik ingin
bertemu dengan sang kakak. Justru karena pertemuan inilah, rasa menjadi anak
yang ‘terbuang itu kembali muncul’. Ken mulai suka minum, dan tak jarang
mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Dengan melakukan itu, Ken merasa lebih
tenang tidak terlalu dikuasai oleh suara-suaranya, akan tetapi, justru inilah
yang membuat hidupnya menjadi semakin kacau. Pada awal-awal sampainya Ken di rumahnya,
dia disambut hangat oleh keluarganya. Adiknya sering mengajaknya ngobrol, dan
tak jarang mengajaknya untuk bermain football. Adik Ken ini benar-benar bisa
memenuhi harapan sang ayah. Ken pula dicarikan pekerjaan oleh ayahnya. Akan
tetapi, Ken tetaplah dikuasai oleh suara-suaranya. Pada suatu ketika, Ken tidak
berangkat kerja. Dia minum bir sampai mabuk, dan hendak memenuhi pertmintaan dari
suaranya untuk mengakhiri hidupnya. Alhasil, bukan kematian yang terjadi,
melainkan hal yang lebih buruk dari itulah yang terjadi. Sesadarnya Ken dari
kemabukannya, Ken sudah mendapati dirinya di dalam sel bersama sekujur tubuhnya
yang biru lebam.
Berita tentang Ken ini tersebar di
surat kabar dan menjadi halaman pertama. Di sana dikatakan bahwa Ken melakukan
tindakan amoral berupa mempertontonkan badannya yang bugil di kamar mandi
stasiun, kemudian lari-lari dikejar polisi, sampai akhirnya dia dipukuli massa
dan dimasukkan dalam sel penjara. Setelah menutup telepon, Ayah Ken
menjemputnya, dan memberikan jaminan. Ken pun bebas. Kali ini benar-benar
bebas. Sang adik sudah tidak mau mengobrol dengannya. Orangtuanya pun
menyuruhnya pergi dari rumah dan tidak diperbolehkan kembali lagi walau
sekalipun.
Kembali lagi Ken menjadi tunawisma, dan
langganan rumah sakit jiwa. Terkadang dia merasakan rumah sakit jiwa tempatnya
dirawat bak neraka. Suatu ketika pula dia merasakan benar-benar nyaman berada
di rumah sakit jiwa, karena mendapati pelayanan yang baik serta keluarga yang
mensupportnya untuk benar-benar sembuh. Singkat cerita, ketika Ken tengah
berada di rumah sakit jiwa yang membuatnya merasa nyaman, memberinya keluarga,
Ken merasa sedikit marah dan tertantang untuk memperjuangkan nasib orang yang
terganggu jiwanya. Lebih tepatnya, itu terjadi setelah Gubernur Cuomo berkata
bahwa keputusannya untuk menandatangani undang-undang itu merupakan “tindakan
yang baik dan mengharukan, tetapi bukan langkah politik yang cerdas sebab
orang-orang berpenyakit mental tidak memberikan suara, sedangkan mereka yang
menentang penandatanganan ini sebaliknya”.
Menghadapi kemarahannya, pada November
1994 Ken memulai proyek pemberdayaan pemilih Kesehatan mental. Hari-hari serta
bulan-bulan berikutnya, Ken disibukkan dengan pekerjaan tersebut, atas restu
Dr. Seiden. Hingga karena kesibukannya itulah, pada suatu sore Ken menyadari
bahwa, dia kehilangan suara-suaranya.
Dalam
proses penyembuhan Ken, Dr. Seiden memang memberikan obat yang berbeda. Dia
selau menanyakan kepada Ken, “Adakah efek samping setelah kamu meminumnya?” Ken
pun mulai menyadari pentingnya pertanyaan tersebut. Dia menarik kesimpulan
bahwa obat-obat itulah yang sudah mengusir suara-suara iblis itu. Pada suatu
terapi, Ken mengatakan kondisi kenyataan hidupnya dengan sebenar-benarnya
kepada Dr. Seiden. Dia pula mengatakan tentang suara-suaranya yang sudah
hilang. Mulai saat itulah lembaran baru dibuka oleh Ken.
Untuk selanjutnya,
Ken menerbitkan New York City Voice : A
concumer Journal for mental health Advocacy. Ken pulalah yang menjadi
penyunting The Reporter, sebuah berita berkala bulanan Aliansi nasional untuk
penyakit mental/cabang NCY-Metro dan juga menjadi juru bicara Asosiasi
kesehatan mental nasional “Partner in Care”. Selanjutnya, hari-hari Ken disibukkan
dengan menjadi pendengar bagi orangtua-orangtua yang anaknya mengalami gangguan
mental, pemberi solusi-solusi dari orang-orang yang memghubunginya, berbagi
kisah hidupnya yang sempat hilang selama 32 tahun ke berbagai negeri.
Ken merasa kini hidupnya sangat jauh
berbeda. Dia kini sudah mendapatkan kembali kehidupan, setelah selama 32 tahun suara-suaranya
telah mengambil kehidupan darinya. Dengan didampingi oleh orang-orang yang
peduli dengannya, keluarga baru yang selalu menyuportnya dari belakang dan dengan
setahun dua kali dikunjungi oleh kedua orangtuanya (pada hari natal dan hari
ulang tahunnya), Ken memiliki khayalan :: Pada abad baru ini, orang berpenyakit
mental akan punya sarana untuk meninggalkan gubuk-gubuk pengasingan. Akhirnya
kami akan bergabung bersama masyarakat pada umumnya, tempat kami akan mampu
hidup sebagai individu-individu yang mandiri dan bukan sebagai kelompok orang
yang dikenal dan ditakuti karena nama penyakit kami.
*Ken Steele meninggal dunia akibat
serangan jantung di rumahnya, 7 Oktober 2000, dua hari sebelum ulang tahunnya
yang ke-52.
^*^ Semoga Bermanfaat Gan
By : Ita Tifuzh
RESUME OF "Three Cups of Tea"
Three Cups of
Tea
Novel yang
diangkat dari kehidupan nyata ini menceritakan tentang sebuah perjalanan mantan
pendaki dalam upaya penyejahteraan penduduk yang tertindas di pakistan utara,
serta pengentasan buta huruf, terutama pada perempuan. Ialah Greg Mortenson,
merupakan seorang pendaki, yang tengah mencoba menaklukkan puncak tertinggi
kedua di dunia, K2 Himalaya. Saat itu, nampaknya nasib sedang tidak berpihak
padanya. Dia tengah tersesat dalam kesendirian, kehilangan temannya. Dalam
kegagalan itu pula, nyawanya pun hampir melayang, kalau bukan karena ditolong
oleh penduduk suku Balti.
Selama beberapa
hari kemudian, orang yang nantinya akrab dipanggil Dr. Greg ini dirawat oleh
suku Balti, sampai keadaannya bisa dibilang sembuh benar. Di sini, bertemulah Greg
dengan sesepuh desa bernama Haji Ali. Kedepannya, Greg sering mendapat nasihat
yang merupakan pelajaran berharga dari Haji Ali. “Pada cangkir pertama, engkau
masih orang asing; cangkir kedua, engkau teman; cangkir ketiga, engkau
bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap untuk berbuat apa
pun-bahkan untuk mati” begitulah kata Haji Ali.
Greg mendapatkan
keramahan dari warga muslim di sini, maka tak heran bila ia betah. Dia pula
sudah memahami benar tentang kondisi tempat ini, bahkan bahwa daerah ini
menderita kemiskinan, kondisi yanag jauh dari sejahtera, banyak bayi meninggal
sebelum ulang tahunnya yang pertama, banyak pula yang kekurangan gizi,
penyakit-penyakit berbahaya, di sini Greg yang notabenenya bekerja sebagai
perawat di negaranya, Amerika, menolong penduduk dengan ilmu yang ia kuasai.
Keadaan yang begitu mencekam, sampai saat ia melihat kondisi sekolah di daerah
ini. Para anak-anak yang semangat menuntut ilmu, karena keterbatasan mereka
berkumpul di atas tanah yang membeku, mengerjakan pelajaran mereka tanpa guru,
karena mereka harus berbagi guru dengan kawasan tetangga. Mulai dari sinilah
perjalanan hidup barunya akan dimulai. Greg berjanji akan mendirikan sekolah
bagi penduduk Korphe.
Greg merupakan
anak sepasang suami istri Dempesy dan Jerene. Ayahnya, Dempesy merupakan
seorang yang tergugah hatinya, hingga mendirikan rumah sakit dengan penuh
perjuanagn. Darah kepedulian ini kelak akan diwariskan pada anak laki-lakinya,
Greg, sebelum ia meninggal karena serangan jantung. Adiknya sendiri, Christa, juga meninggal
karena suatu penyakit bernama meningitis, radang selaput otak.
Dalam perjalanan
petualangannya, tentu saja Greg medapati banyak kendala, dimulai dari
pendanaan, percintaan, penolakan, dan
ancaman bahkan perang. Dalam pendanaan untuk dapat membangun sekolah yang sudah
Greg janjikan pada penduduk desa Korphe, Greg snagat terbantu dengan adanya
Jean Hoerney, yang notabenenya sama-sama mantan pendaki. Dengan adanya si kaya
raya Hoerney ini, tentu saja Greg sangat terbantu, sampai pada penyelesaian
sekolah Korphe. Bahkan atas inisiatif dan bantuan dari Hoerney, Greg menjadi
direktur institusi Asia Tengah, Central Asia Institute (CAI). Dengan adanya CAI
ini, perjalanan pendirian sekolah tidak hanya berakhir di Korphe, tetapi meluas
hingga puluhan sudah berdiri sekolah dengan dana CAI, memiliki puluh ribuan
jumlah siswa yang jumlah tiap pekannya tidak tentu karena CAI juga memberikan
gaji, serta kebutuhan sekolah. Di sini,
Greg mendapatkan pelajaran berharga dari Haji Ali, bahwa dalam mendirikan
sekolah, jangan langsung menuju suatu daerah jauh yang belum tentu ada satu
orang pun yang kamu kenal, tapi mulailah dari kampung ke kapung yang dekat. Haji
Ali pula berpesan agar jangan sampai Greg keluar ataupun pergi ke suatu tempat
tanpa ditemani sesepuh atau pun seseorang yang paling berpengaruh di suatu desa
tersebut. Hal ini sangat terbukti, bahwa Greg sempat pernah diculik oleh suatu
kelompok.
Dalam pembangunan
sekolah Korphe ini, Greg sempat mengalami banyak masalah, hingga Greg sedikit
lebih lama menunjukkan foto sekolah ini pada Hoerney sebelum ia meninggal
karena suatu penyakit keras. Bermula dari daerah lain yang menginginkan
dibangunkannya sekolah, hingga Greg sempat kehilangan bahan bangunannya, dan
ketika ia sudah mendapatkan bahan bangunannya lagi, penduduk desa korphe lebih
membutuhkan jembatan terlebih dahulu dari pada sekolah. Karena hambatan ini
juga, Hoerney harus mengocek rupe lagi agar sekolah di korphe dapat segera
berdiri.
Di tengah masa-masa
sulitnya, ketika bisa dibilang Greg tidak memiliki tempat tinggal, dia
mendapati masalah dalam percintaan. Mulai dari ditinggal teman kencannya kembali
pada kekasih lamanya, sampai ia bertemu dengan Tara. Tara ini, adalah labuhan
hati terakhir bagi Greg, sampai akhirnya mereka mempunyai dua orang anak. Dan
karena tuntutan pekerjaan pula, ditambah bekerja di daerah yang dianggap
‘bahaya’, Greg sedikit sekali memiliki waktu untuk keluarganya. Tetapi, Tara
merupakan perempuan yang luar biasa, dia bisa menerima sang suami apa adanya,
meski dia sering gelisah di tengah kesepiannya, menanti kabar dari Greg apakah
sang suami berada dalam keadaan masih aman.
Greg merupakan
seorang yang sangat dihormati karena dedikasinya yang tinggi pada penduduk
muslim, walaupun notabenenya dia merupakan Kafir. Dengan dana minim, dia
sanggup mendirikan sebuah sekolah, karena dia memperhitungkan semuanya secara
masak. Walaubagaimana pun juga, dana yang ada dalam rekening CAI terbatas. Harus
ada suatu upaya, agar CAI semakin berkembang. Greg sering melakukan presentasi
memutar slide, berharap yang melihat presentasinya akan terkesima dan bersedia
membantu. Pada awal perjalanan, hanya beberapa yang hadir. Akan tetapi, setelah
dieksposenya berita tentang perjalanan Greg ini pada sebuah majalah parade, langkah
CAI dan Greg nampak semakin mulus. Selanjutnya, saldo di rekening CAI terus
membaik, hingga Greg dapat mengangkat beberapa karyawan lagi sampai adanya kenaikan
gaji.
Keluar dari
masalah pendanaan, Greg masih dihadapi dengan masalah lain. Bagaimanapun juga,
Pakistan dan Afanistan merupakan daerah berpenduduk Muslim, sedangkan Greg
adalah seorang Kafir. Walau keduanya saling menghormati, tapi tidak berlaku
bagi warga negara asal Greg. Teroris yang meledakkan kota New York telah
mengambil peran di sini. Amerika menganggap bahwa mereka merupakan sekumpulan
teroris, dan muslim adalah musuh terbesar Amerika. Pemerintahan Pakistan pun
mempunyai hubungan yang kurang baik dengan Amerika, oleh beberapa serangannya.
Selanjutnya, aktifitas CAI mendapat kecaman dari sana-sini, dari mullah-mullah
desa di negara muslim ini, bahkan sampai pemerintahan Amerika. Dalam situasi seperti ini, Greg muncul
sebagai tokoh perdamaian. Dia mengatakan pada dunia lewat majalah parade,
bahwasanya untuk memerangi teroris, adalah bukan bom dan serangan-serangan,
melainkan PENDIDIKAN.
Walau sampai
sekarang, perang belum juga berakhir, toh Greg sudah mendapatkan banyak sekali
kemenangan. Dia sudah mengambil simpatisan dunia, dan adanya seorang gadis bernama
Jahan, cucu Haji Ali, di mana dia merupakan sebuah gambaran Gadis yang
bercita-cita sebagai gadis super, yang menjadikan gambaran kesuksesan Misi
Greg. Dan dari berbagai permintaan yang datang dari segerombolan orang yang
meminta didirikan sekolah di daerahnya, Greg sudah berusaha memnuhi janjinya.
Kini, di akhir buku, dia tengah berhadapan dengan seseorang bernama, Sadhar
Khan. Sama seperti satu dekade sebelumnya bersama Haji Ali, Greg tengeh
berjanji akan mebangun sekolah dari permintaan seorang lelaki yang datang dengan menunggangi kuda, untuk
pendirian sekolah di daerah lelaki tersebut.
^*^ sEmoga BerManfaaT
BY : Ita Tifuzh
Langganan:
Postingan (Atom)
