Sabtu, 14 Juni 2014

Bapak, Alasan Aku Ada



Assalamualaikum, Bapak.

Selamat pagi, Bapak. Selamat siang, Bapak. Selamat malam, jika Bapak baru membaca suratku di malam hari. Selamat untuk apa saja yang sedang Bapak lakukan ketika menerima dan membaca surat ini. Selamat apapun, Bapak.

Bapak, bagaimana kabar Bapak? Bgaiamana keluarga di rumah? Bapak sehatkah? Mamah bagaimana? Ahhhh, kenapa jadi kaku seperti ini ya, Pak?

Susah, Pak. Susah membuat suatu pengantar surat untuk bercerita pada Bapak. Bercerita tentang kehidupanku di sini. Bercerita tentang warna-warni kehidupan kampus dan juga bagaimana hiruk pikuk suasana yang mendewasakanku selama di sini. Aku tak terbiasa, Pak. Yang biasa bagiku, bercerita pada mamah karena beliaulah yang paling mudah dicari di rumah. Ahhh, jadi ingat. Seringkali dalam perjalanan pulang ke rumah saat pulang sekolah, wajahku sudah muram. Bahkan tak jarang aku menangis sesenggukan di sepanjang perjalanan menuju rumah karena ulah teman-temanku yang jail dan nakal di masa kanak-kanak. Begitu kubuka pintu, wajah mamahlah yang langsung kudapat. Beliau lalu memeluk dan membelai rambutku saat aku mulai bercerita. Setelah itu, sudah.

Rasanya semua masalah sudah selesai. Rasanya aku lupa kalau hari itu dan kemarin-kemarin aku pulang dalam keadaan menangis. Meski kemungkinan hari seok aku akan pulang dalam keadaan menangis lagi, aku tak takut. Entah mengapa tak sedikit pun ketakutan pada apapun muncul jika aku dalam pelukan mamah. Mamahlah yang menghapus mendung durja di raut wajahku, Pak. Mamah yang menghapusnya, hanya mamah saja. Ketika sore tiba, aku tak memiliki alasan bersedih lagi. Saat itulah Bapak di rumah. Untuknya aku tak perlu mengungkit kesedihanku hari itu.

Ahhh, langit sudah bertabur bintang! Ternyata sudah malam, Bapak. Tentunya aku harus belajar bukan? Bapak menasihatiku untuk belajar keras agar menjadi anak yang cerdas. Kewajibanku adalah menjadi lebih sukses dari dan melebihi Bapak. Itu nasihat Bapak, bukan? Agar waktu yang Bapak alokasikan untuk bekerja tidak terbuang percuma. Agar tidak sia-sia selama ini Bapak bekerja banting tulang. Nasihat Bapak membuatku semakin giat.

Setiap malam aku belajar menghadapi ulangan esok harinya. Ketika ujian SD semakin dekat, Bapak menuntutku semakin giat. Lalu, usahaku harus semakin keras ketika tiba-tiba aku masuk SMP. Ulangan menjadi lebih sering mampir di masa SMP. Aku yang waktu itu masih SMP tak bisa mengelak. Kuhadapi ulangan dari tahun ke tahun sampai akhirnya ujian kelulusan SMP tiba. Masuk SMA yang kata orang adalah masa putih abu-abu, tentu memberikan tantangan yang lebih besar. Aku yakin Bapak akan menasihatiku untuk belajar lebih giat. Aku pun belajar semakin keras, dari sore sampai menjelang waktu tidur aku belajar. Aku mengurung diri di kamar dari sore sampai malam itu juga dan baru keluar ketika jam makan malam tiba atau sekadar ke kamar mandi. Malam-malam yang kulalui adalah untuk belajar. Tiada waktu tanpa belajar. Malam Minggu ketika aku boleh meninggalkan meja belajar, teman-teman seumuranku mengajak jalan keluar. Malam Minggu bagi kebanyakan orang seakan menjadi waktu untuk sahabat ya, bukan kerabat? Saban hari aku memikirkannya. Kapan malam untuk keluarga itu tiba, sampai akhirnya, tahu-tahu aku harus menghadapi ujian kelulusan SMA.

Jenuh bukan, Pak, mengikuti ritme datar yang demikian?  Jenuh. Aku sebagai siswa pun jenuh. Begitu pula Bapak yang tentu lebih jenuh. Jenuh, lelah, dan letih lebih Bapak rasakan. Tidak ingin mengecewakan aktivitas yang membuat Bapak kelelahan di malam hari, saban malam aku belajar saat Bapak istirahat. Dan ketika Bapak benar-benar istirahat (pensiun), adalah saat di mana aku dinyatakan lulus SMA.

Tapi Bapak tahu? Ada yang menyesakkan di tengah merdekanya aku sebagai siswa dan Bapak sebagai abdi negara. Aku sempat berpikir. Setelah Bapak pensiun dari tempat yang sudah merenggut momen sarapan bersama kita, kita bisa memulainya dari enol lagi. Aku membayangkan setelah kita sama-sama merdeka, kita bisa duduk melingkari satu meja saat sarapan pagi. Senangnya membayangkan itu. Setiap hari, tentu akan kunanti esok dengan suka cita menyambut momen ‘sakral’ itu. Aku pun mengira akan mendapati Bapak di depan pintu saat aku pulang.          

Namun, ternyata masih belum bisa demikian Bapak. Sekarang ketika bangun di pagi hari, semua suasananya sudah berubah, lebih dari yang kubayangkan sebelumnya. Jangankan hanya bangun pagi, sarapan pun berubah total. Bahkan selain tidak ada Bapak, tidak ada pula mamah yang memasakkanku sarapan dan menemaniku di meja makan. Tidak ada, Bapak. Dan bukan Bapak yang kudapati di depan pintu saat aku pulang, bukan pula mamah. Aku justru mendapati ruang sempit yang langsung menyuguhkan kasur dan rak buku yang di dalamnya berjejalan buku-buku kuliah dan novel-novel yang kulahap ketika tiba-tiba aku merasa asing di sini. Iya, Pak. Di saat kesempatan bersama Bapak datang, akulah yang harus pergi ke kota orang untuk melanjutkan jenjang studiku. Aku yakin Bapak akan menasihatiku, “Semua ini, demi masa depanmu, Nak.”

Bapak, ternyata aku bisa bercerita banyak ya? Ahhh, menurutku ini bukan semacam cerita. Mungkin inilah yang namanya mengaduh dan, mungkinkah mengeluh? Bapak, tidak! Aku tidak mengeluh, Bapak. Aku hanya ingin mengingatkan masa-masa terbuang yang seharusnya menjadi kebersamaan kita. Kenapa justru mengaduh tentang masa lalu yang kukatakan lewat surat ini? Jujur aku masih kesulitan dan merasa kaku untuk menceRitakan warna-warni kuliahku dengan Bapak.

Mungkin kalau ada mamah di sini, aku bisa dengan mudah bercerita. Tanpa aku berusaha keras merangkai serangkaian diksi pun, mamah pasti memahami ceritaku. Karenanya, aku akan lebih mudah bercerita sampai mengalir sudah semua cerita tanpa bisa kuhentikan kecuali bila air mataku sudah berhenti mengalir. Semua lebih mudah kalau ada mamah. Namun di lain itu, aku pun tak akan dengan mudah mendapat kesempatan melanjutkan belajar di kota pelajar ini, jika tidak ada Bapak.

Bapak, kita memang jarang memiliki kesemptan bersama. Aku iri dengan teman-temanku yang dekat dengan ayah mereka. Aku iri pada teman-temanku yang begitu mudah menceritakan bagaimana sekolahnya pada bapaknya. Namun, ternyata banyak juga dari mereka yang iri padaku. Mereka iri karena bapak mereka tidak cukup mampu untuk membiayai kuliah di universitas ternama negeri ini. Iya, Bapak. Aku yang iri pada mereka, jutru mereka juga iri kepadaku.

Bapak, selama di sini aku semakin dewasa. Keberadaanku di kota orang membuatku menjadi benar-benar paham. Perjalananku sampai saat ini adalah bukti cinta Bapak. Bukti cinta yang sempat tertutupi atas momen sarapan yang hilang. Dan aku benar-benar sadar. Adanya aku adalah bukti cinta Bapak yang paling nyata. Adanya aku yang berdiri tegak adalah alasan punggung Bapak yang tegak saat bekerja. Saat ini dan nanti, lariku akan melesat semakin cepat mengejar mimpi. Nanti, sejauh mana kaki ini berlari, dia tak akan pernah menjauh dari sosok yang membuatnya melangkah jauh. Bapak, sejauh mana pun nanti aku berlari, kaki ini selalu berporos pada sosok yang membuatnya “ada dan bisa”.  

Wassalamualaikum, Bapak.


Putrimu, yang terus berlari meraih mimpi, sampai saat ini dan nanti.

Rabu, 11 Juni 2014

Cinta Terpendam





             Taraaaaaaaa!!!!! Ini nih karya keduaku yang udah dibukukan!!!! Penasaran? Oke aku kasih bocoran dikit yaaaa :)


                   Akhir tahun 2013 lalu aku mengikuti lomba tulis cerpen yang diadakan oleh salah satu penerbit indie, Mozaik Indie Publisher. Ketentuan dari lomba tersebut adalah cerita pendek seputar cinta terpendam dan HARUS NYATA! Hahaha, oke deh! Karena aku pun memiliki kisah cinta terpendam dan sampai saat ini MASIH MEMENDAM RASA, ya sudaaaah yaaaa, join-lah aku ke lomba tersebut. 
                    
                  Berkisahlah aku tentang seorang cowok atraktif nan unyu yang kukenal lewat salah satu organisasi di kampus, di sini aku kasih nama samaran untuknya dengan, Bastian. Bastian, iya Bastian! Tahukah kamu, semua tentang dirimu ada dalam karya yang ternyata masuk 20 besar nasional dan akhirnya dibukukan! Tahukah kamu, kamulah sumber dari inspirasi ini.

                  Bastian, iya Bastian. Suatu saat, kisah ini akan sampai padamu, entah bagaimana keajaiban membawanya kepadamu. Suatu saat kamu akan tahu, kamulah sumber inspirasiku. Suatu saat, di suatu waktu kamu akan tahu.


                   "Aku sudah di sini, Bastian, tepat di kursi yang membawa kita menuju Kota Semarang. Sejuknya udara menuju kota Semarang, sesejuk hatiku saat engkau buatkan tawa lewat cerita nahasmu.  Aku kembali mengenang perjalanan kita, sendiri, tanpa kamu, tapi bersama bayang kosong yang kembali kuhadirkan. Di ‘Suatu waktu’ nanti engkau akan tahu. Cerita itu akan sampai ke tanganmu, entah bagaimana keajaiban membawanya kepadamu. Bisa berbentuk selembaran cerita usang, ataukah antologi cinta terpendam. Semua ini untukmu, kamulah sumber inspirasinya. Biarkan ini menjadi cara paling indah untuk menyampaikan isi hatiku padamu. Aku cukup bungkam, menutup rapat-rapat tuturku. Sampai akhirnya, ‘suatu waktu’ nanti engkau tahu."

               
               Iya, cerpenku berjudul "Ada Aku di 'Suatu Waktu' " dapat Anda baca di halaman 103. Berminat? Please contact me @Itasahri, Ita Tifuzh, or ita.ipus@yahoo.com

Thanks :)

Menjaring Waktu




                      Ini pembukuan karya pertama saya, antologi puisi bertema waktu. Di dalamnya ada 22 penyair muda Indonesia yang terdiri dari Pelita dan sahabat Pelita. Dua karya saya (puisi) berjudul "Memahami Isi Hati Toki" dan Dilematis Aktivis" termasuk di dalamnya.

                    FYI, karya sederhana kami diterbitkan oleh Smart Writing dan sudah memiliki ISBN. Di dalamnya, ada karya novelis muda yang juga murid Taufik Ismail, Mardhiyan M.Z

                    Berminat? Please contact me @itasahri, Ita Tifuzh, or ita.ipus@yahoo.com


Rabu, 15 Januari 2014

PEJUANG DI DUNIA

Perempuan cantik itu, Mamah



PEJUANG DI DUNIA

Diri berkisah tentang sebuah perjalanan
Dalam kotak dengan sekat-sekat sempit
Terus melaju, menuju kota perenungan untuk pemahaman baru

Diri tengok celoteh anak berseragam di sebelah
Meniti tepi ke tepi kota setiap pagi dan senja
Terik yang memanggangnya siang itu
Tak mampu meluruhkan semangatnya!
Sedang diri mengingat
Pernah membawanya terjun dalam jurang keterpurukan
Ia hancur, dan pecahannya yang maha tajam menyayat sisa jiwa!
Di pusat luka, jiwa bertanya!
Adakah pencapaian, untuk waktu yang hilang?
Adakah apresiasi, untuk akal dan peluh yang didedikasi?

Mendadak tangis bocah memancing perhatian diri
Makhluk mungil itu kembali tersenyum
Bahagialah hati bunda
Ohhhh…. bukankah bunda sudah bangga, sejak tangis itu pecah di antara dua dunia?
Sejak kaki mungil yang belum kokoh itu merangkak, merambat, berjalan, hingga berlari dengan kokoh?
Bunda bahagia, bunda bangga!

Diri kembali introspeksi
Tersengat oleh semangat bocah berseragam di tepian kota
Napas baru pun menyatu, mendekam dalam kalbu
Dan oase baru, bermurah menawarkan peradabannya

Bukakan?
Setiap orang adalah pemenang!
Lahir dari rahim Sang Pejuang!
Untuk terus melangkah menjadi pejuang!



Nama: Tri Puspitasari
TTL: Bantul, 28 November 1991
Asal Daerah: Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
No hape: 085643725683
Akun FB: Ita Tifuzh
Email: ita.ipus@yahoo.com

Selasa, 31 Desember 2013

Hikmah Pantang Menyerah Part 2


 
 
PS: Untuk Abang yang membawakan pesan dari Borneo sana. Ketika sekali dua kali aku mendaki pegunungan, Engkau seringkali menerobos belantara hutan Kalimantan untuk menamkan logo BPN di perut bumi. Kita berada dalam dua persimpangan jalan yang sama sekali tak sama. Pastinya, setiap jalan yang dipilih adalah jalan yang terbaik. Oke, tulisan ini dimuat dalam kolom Cerma Minggu Pagi Kedaulatan Rakyat edisi 27 Desember 2013. Thanks alot untuk inspirasinya, My Brother Hadi Yuntarto

Menulislah, karena dengan tulisan, Engkau mampu merubah peradaban!

Kelak, tulisan akan menemukan peradabannya. Ia hadir di setiap jalan, sebagaimana tuannya mengarahkan. Menulis dapat digunakan sebagai sarana dakwah. Menulis dapat dijadikan alat penguat untuk mempengaruhi orang lain. Menulis akan menyelamatkan mereka dari keterpurukan ilmu pengetahuan. Dan menulis, akan membuat pepatah yang mengatakan 'Buku Jendela Dunia', menjdi tidak sia-sia. Bukankah pepatah itu ada, karena adanya seorang penulis?

Aku menulis, membagi beragam pemaknaan hidup dari sepenggal perjalanan. Aku menulis, untuk mereka yang sudah menginspirasiku. Aku menulis, agar orang lain turut terinspirasi.
— bersama Hadi Yuntarto.
 
 

Kamis, 26 Desember 2013

Perkanalkan, namaku Itok! Si Ulat Kecil yang terus menerus bermetamorfosis



25 Desember 2013
Perkanalkan, namaku Itok! Si Ulat Kecil yang terus menerus bermetamorfosis



Halo, namaku Tri Puspitasari. Dari kecil aku dipanggil Ita. Namun, seiring pentahapan kehiduan yang aku jalani, sapaanku kian bervariasi. Ada yang memanggilku ikan teri waktu SMP. Tidak itu saja, waktu SMP aku juga dipanggil Kucing. Tahu kenapa? Karena namaku Tri, dibuat-buat jadi Teri. Karena namaku Puspita, maka mereka memanggilku Pussssssssssss, seperti memanggilku kucing. Alhasil, jadilah nama sapaanku Kucing.

Memasuki SMA aku keluar dari masa kelam penamaan hewan itu. Aku memulai perkenalan dengan teman-teman SMA dengan menyebutkan nama panggilanku, Ita. Apa? Mereka tidak percaya. Mereka malah memanggilku Tri, Pus, dan, sampai akhirnya, semuanya kompak memanggilku, Ipuz (perhatikan ini: Tr Ipus pitasari). Ya, setidaknya lebih berkemanusiaan dari pada jaman SMP yang berperikehewanan ya! Oke, kalo di kampus, mereka memanggilku, Itok! Ya, inilah aku! Itok, si ulat kecil yang terus menerus bermetamorfosis!

Itok seperti namanya, Tri! Dia anak ketiga dari tiga bersaudara. Itok adalah senjata pamungkas bagi kedua orang tuanya! Ia dibesarkan di keluarga yang menjunjung prinsip kesederhanaan! Maka inilah Itok, apa adanya! Tidak usah dibuat-buat, dikurangi, apalagi ditambah hingga akhirnya harus berubah seperti rangers kuning!

Itok adalah mahasiswa yang menganut sistem strukturalis! Sejujurnya, ini bukanlah pilihan hari nurani! Hanya saja sifat pelupa yang sudah melekat dan mendarah daging, membuatku wajib menuliskan target-target hidup dalam jangka waktu yang runtut!





Itok, itulah kenapa ia anak terakhir. Seperti anak terakhir pada umumnya, manja, egois, sukar mengalah, dan macam-macamnya yang bisa Anda-Anda sekalian bayangkan untuk sifat anak terakhir! Etttt, tapi ingat perkenalanku di muka! Itok adalah si ulat kecil yang terus menerus bermetamorfosis! Untuk menjadi seekor kupu-kupu yang indah dan dissanjung banyak makhluk, bukankah si ulat melalui pentahapan-pentahapannya? Dan inilah aku, Itok! Selama masa metamorfosis yang tidak akan pernah menjadikan wujudku seperti kupu-kupu, aku selalu berbenah! Hingga akhirnya, keegoisanku dapat berkurang. Hingga akhirnya, aku dapat mengalah. Hingga akhirnya, insyaAllah semua menjadi lebih baik. Tahu ukuran lebih baik seperti apa?

Ukuran adalah bukti! Buktinya, selama ini orang-orang di sekitarku nyaman-nyaman saja dengan sikap dan tingkahku! Hahahhaha! Dan mereka, adalah, oang-orang yang insyaAllah baik dan kadar imannya tinggi! :)



Jika aku sudah baik seperti itu, kenapa aku masih menjasi si ulat yang bermetamorfosis dan tidak pernah menjadi kupu-kupu? Hahhaha, bukankah kita semua tahu, tidak akan ada manusia yang sempurna? Kesempurnaan hanya milik Allah semata!

Itok adalah si ulat yang menjejalkan dirinya dalam panggung komedi. Aku akan mengambil setiap sisi lucu dari kehidupan ini. Maka, Itok harus selalu ceria, penuh semangat, dan imut! Itok siap menebarkan bening semnagat bagi jiwa-jiwa mereka yang kering, penuh keluhan dan penyesalan! Karena Itok, suka yang lucu-lucu dan unyu-unyu :p

Akhirnya, Itok adalah orang yang tidak akan mengecewakan kepercayaan orang lain. Mereka percaya Itok akan menjadi penulis tersohor seperti Dewi Lestari, Andrea Hirata, dan Asma Nadia! Dan Itok, insyaAllah tidak akan membuat fans-fans Itok kecewa!  

Oke, mau tau apa lagi tentang Itok? Mungkin aku harus menceritakan tentang hal ini, siapa tahu kalian akan bertindak! Itok suka sekali makan coklat! Siapa tahu setiap liqo hari Jumat, kalian mau membawakan coklat untukku :)



Oya, Itok saat ini dalam tahap berlari, mengejar mimpi! Itok adalah pamungkas, yang mana aku harus berlari mengejar abang-abangku yang sudah menduduki singgasananya! Itok percaya, suatu saat nanti, Mamah Itok akan tersenyum bangga, bahkan melebihi senyum untuk abang-abanngnya Itok mungkin, insyaAllah! Itok akan meletakkan singgasana, di tempat tertinggi, di mana siapa pun makhluk yang bermukim di negeri korup ini, mampu melihatnya! Singgasana itu, insyaAllah akan tampak cerah di mata orang-orang yang suka mencerca bangsa ini juga! Apalagi kalau bukan menjadi penulis! Aamiin :)

Oke, cukup segini dulu ya deskripsi diri sendirinya, capek ngetiknya je! :p

Sabtu, 07 Desember 2013

Ketika Salah Satu Diantara Kita Akan Pergi



6 Desember

Pendakian Pertama, Lawu. Saat Nadhia membantuku membenahi rensel


Aku kembali menulis tentang dia. Seorang sahabat yang kini sudah seperti saudara sendiri. Hari ini kembali mata batin kami terikat. Saat ia hendak naik gunung, tanpa aku.

Seperti biasa aku bertendeng di kosnya yang merupakan mantan kamar kosku. Kuhabiskan waktu untuk menikmati fasilitas wifi dan juga menemaninya sebelum mendaki. Kami berdua melakukan pendakian bersama. Pendakian pertamaku, adalah pendakian pertamanya juga. Sudah dua kali kami mendaki. Meski kelompok pendakian kami selalu berbeda, tapi kami selalu didapati bersama. Dan kali ini, pendakiannya yang ketiga, akan dilakukan tanpa aku. Tanpa aku yang kini sibuk melahab proyek-proyek kepenulisan, proyek yang selama ini dan di masa depan kuidamkan.

Pendakian Pertama, Lawu. Pencapaian puncak Gunung untuk Kita Berdua


Dia sempat meninggalkanku sendiri di kamar untuk meminjami keperluan mendaki. Aku kembali berkutat dengan tulisan, sampai ia kembali. Waktu ternyata beranjak kian cepat. Tidak terasa sudah terdengar azan asar dan hari sudah sore. Rasanya sudah seharian telingaku mendengarkan keluhannya. Sayangnya, Nadhia hobi sekali mengeluh. Berkali-kali diamengatakan bahwa ia tak siap dan merasa pendakian ini terlalu dipaksakan. Dia sempat mengatakan, dia ragu dengan pendakian ini. Aku melihat dia tidak bersemangat dengan pendakian ini. Sempat pula ia berkata, bisajadi karena penmendakian kali ini tidak dilakuakn bersamaku. Hohohhoho , kami pun tertawa lepas.

Sudah waktunya bagi ia berkumpul dengan kelompok, dan aku pun sudah selesai dengan semua tulisan ini. Kami pun melangkah keluar bersama. Mungkin bisa dibilang kebetulan. Mungkin juga bisa dibilang ikatan batin yang kuat. Baru langkah kami sampai di lantai 2. Baru kami hendak mengambil helm dan keluar dari kos, hujan tiba-tiba turun. Awalnya, hujan ini hanya berbentuk gerimis, sampai akhirnya hujan deras pun tiba. Langkahnya terhenti, dan entah mengapa langkahku untuk pulang pun ikut terhenti.

Pendakian Kedua, Merbabu. Kita masih bersama, berdua

Dia kembali terus mengeluh. Dia terus menimbang-nimbang keputusannya, Di saat kebingungan mengganggu alam pikirnya, aku mendapat kabar dari Mas Risa bahwa tulisanku tidak bisa dibaca karena dalam format word 2010. Aku pun meninggalkan Nadhia, memberinya waktu untuk berpikir lagi. Segera aku naik ke lantai 3, mengganti format word dan mengirimnya ulang. Kembali aku bergelut dengan beragam urusan dalam dunia tulim menulis, sampai akhirnya, resmilah aku tergabung dalam keluarga besar re!media service!  Sampai akhirnya, Nadhia naik ke lantai 3 dan menyergahku.

Hujan sudah reda. Alam seakan membisikkan tanda-tanda pada kami bahwa kemungkinan besar merapi tak akan turun hujan malam ini. Tapi entah, Nadhia sudah memutuskan untuk tidak ikut serta dalam pendakian kali ini. Dia sudah mengatakannya pada Mas Barri. Mendengar keputusannya, kami hanya tertawa nyengir sambil bergurau. Mungkin kita memang ditakdirkan untuk selalu melalukan pendakian bersama. Kalau ada salah satu dari kami tidak ikut, itu artinya tidak aka nada acara mendaki. Kita akan selalu melakukannya bersama, sama seperti melewati malam tahun baru bersama, semenjak kami memasuki dunia perkuliahan, sampai akhirnya kami akan hidup dnegan keluarga masing-masing.

Puncak Merbabu, Pencapian puncak tertinggi kedua, masih bersama, berdua

Kegiatan kami selanjutnya adalah, melanjutkan menikmati fasilitas kos ini. Youtube memutarkan trailer film yang sudah sering aku putar sampai Nadhia hafal, “Malaikat Tanpa Sayap”. Trailer selanjutnya adalah “Surat Kecil untuk Tuhan”. Trailer ini belum pernah kutonton sebelumnya. Merasa tertarik, Nadhia pun mendekat. Kami memelototi layar komputer milik Dek Nuri, berdua. Sampai akhirnya layar tersebut menyuguhkan film berjudul “Refrain”.

Sesekali aku memutar video lagu-lagu galau. Sampai akhirnya, kamar ini dibisingkan dengan lagu Voirra yang berjudul “takut”. Aku hanya iseng mengatakan pada Nadhia bahwa ia harus mendengarnya karena ini lagu terbaik sepanjang masa. Setelah kami dengarkan bersama-sama, ternyata lagu ini sangat pas untuk kejadian hari ini. Hhahaha, aku kembali iseng mengganti lirik menjadi:
“Aku takut, kamu pergi mendaki, kamu hilang di gunung, kamu sakit hipotermia karena kehujanan.  Aku ingin, Kau di sini… di sampingku… Selamanya” gelak tawa kami pun buncah, mengisis sekat-sekat kosong dalam kamar yang luasnya hampir sama dengan lapangan badminton ini.

Antara ngantuk dan lega. Merbabu dini hari. Selalu berdua


Hari ini, aku merasakan kedekatan dengan Nadhia melalui ikatan batin seperti ini lagi. Dulu, di hari ulang tahun pertamanya di Kota Pelajar, aku mengajaknya mbolang ke Kebumen. Sumpah waktu itu aku nggak tau kalo dia lagi ultah. Kok bisa pas ya? Hahahahha sejak saat itulah, aku merasa kehidupan kami di masa mendatang akan special. Wakakakka